Posted by : Muhammad Gaddafi Saturday, 14 May 2011

Master Cheng Yen lahir pada 11 Mei 1937 di kota Qing-shui, kabupaten Taichung, Taiwan, dengan nama awam Wang Jin-yun. Ketika masih kanak-kanak, beliau dijadikan anak asuh pada keluarga pamannya, selanjutnya pindah bersama orangtua asuhnya ke kota Feng-yuan, kabupaten Taichung. Pembawaan lahir Master Cheng Yen sangat pintar, apalagi selaku anak tertua dalam keluarga, maka sebelum berusia 20 tahun, Master Cheng Yen telah ikut membantu usaha keluarga, di saat bersamaan juga membantu ibunya membereskan urusan rumah tangga.

Jalinan jodoh dengan agama Buddha

Master Cheng Yen memiliki watak bawaan sederhana, berbakti, baik hati dan lembut. Ketika berusia 15 tahun, ibunya menderita penyakit perforasi lambung akut dan perlu menjalani operasi. Pada masa itu, operasi masih beresiko besar, dalam kondisi penuh kerisauan, Master Cheng Yen sering berdoa demi ibunya, dengan melafalkan nama “Bodhisattva Alalokitesvara” dengan tulus, beliau berjanji jika ibunya sembuh, akan menjadi seorang vegetarian, juga rela jika panjang usianya berkurang selama 20 tahun, demi menambah panjang usia ibunya. Mungkin wujud baktinya telah menggugah Tuhan, ternyata penyakit ibunya tidak perlu dioperasi lagi, sembuh hanya dengan memakan obat saja, sejak saat itu Master Cheng Yen mulai menjadi seorang vegetarian.

Pada bulan Juni 1960, ayahnya yang kala itu masih berusia dibawah 40 tahun tiba-tiba meninggal dunia karena sakit, dari awal menunjukkan gejala sakit sampai menghembuskan nafas terakhir tidak sampai 24 jam, hal ini memberikan pukulan batin sangat dahsyat pada diri Master Cheng Yen. Master Cheng Yen bertanya dalam hati, dari manakah sebetulnya asal kehidupan dan kemana pula perginya sesudah mati? Master Cheng Yen mulai berusaha mencari jawabannya, beliau sering belajar ajaran Buddha dari Master Xiu-dao dari Vihara Ci-yun.

Pada ketika itu, Master Cheng Yen mendapatkan pemahaman bahwa bukan ibu rumah tangga yang berkuasa untuk mengatur duit keluarga saja yang dapat disebut berbahagia, “Wanita bukan hanya perlu bersumbangsih demi sebuah keluarga, semestinya sama saja dengan pria, dapat memikul tanggung jawab terhadap masyarakat, di mana perasaan iba terhadap masyarakat dapat disebarkan kepada seluruh umat manusia, ‘kasih terhadap keluarga’ diperluas menjadi kasih terhadap masyarakat dan semua makhluk hidup, demikian barulah dapat disebut kebahagiaan sesungguhnya”, Master Cheng Yen beberapa kali mencoba meninggalkan rumah dan urusan duniawi, namun menemui kegagalan, setelah berkelana ke banyak tempat, beliau masih saja belum menemukan tempat pelatihan yang sesuai, terakhir Master Cheng Yen tinggal di vihara Pu-ming, sebuah vihara kecil di kecamatan Xiu-lin, kabupaten Hualien, walau kehidupan dilalui dengan susah payah, namun tekad Master Cheng Yen untuk belajar ajaran Buddha tidak pernah padam.

Musim gugur tahun 1962, pada usia 25 tahun, Master Cheng Yen mencukur sendiri rambutnya tanpa guru pembimbing, beliau dengan hening melangkah masuk ke dalam kehidupan pelatihan sebagai biksuni. Pada Februari 1963, Vihara Lin-ji di Taipei membuka pendaftaran untuk penahbisan biksu-biksuni baru, sebelum memasuki lokasi penahbisan, Master Cheng Yen terlebih dahulu mengakui Master Yin-shun sebagai guru di Dharmaloka Hui-ri, Master Yin-shun berpesan: “Jalinan jodoh di antara kita sangat istimewa, karena engkau hendak menjadi biksuni, engkau harus senantiasa berbuat demi agama Buddha dan demi semua makhluk hidup.” Master diberikan nama tahbis “Cheng Yen”, aksara “Hui-zhang”. Setelah melalui upacara mengambil perlindungan pada Triratna secara sederhana, Master Cheng Yen segera menuju Vihara Lin-ji dan berhasil mengikuti upacara penahbisan biksu-biksuni baru.

Sekembalinya ke Hualien, Master Cheng Yen menempati sebuah rumah kecil berdinding kayu seluas 13 meter persegi di belakang Vihara Pu-ming, beliau mulai melakukan kebaktian “Lotus Sutra”, belajar ajaran dan makna bunga Dharma. Karena Master Cheng Yen tidak mau menerima persembahan dari umat, maka kehidupannya sangat susah. Pada Oktober 1963, Master Cheng Yen pindah ke Vihara Ci-shan di Hualien dan membabarkan “Ksitigarbha Bodhisattva Sutra“, selama delapan bulan berada di sana, banyak umat yang datang mengikuti kebaktian, banyak dari para biksuni dan perumah tangga di griya perenungan sekarang ini, dulunya adalah pengikut Master Cheng Yen di Vihara Ci-shan. Belakangan, Master Cheng Yen membawa beberapa orang muridnya kembali menumpang tinggal di Vihara Pu-ming, mereka bersama-sama melatih diri di belakang aula Vihara Pu-ming.

Master Cheng Yen menetapkan aturan pelatihan diri, harus hidup mandiri tanpa menerima persembahan dari umat, aturan ini berlangsung sampai sekarang ini, semua pengeluaran biaya di griya perenungan ditutupi dengan penghasilan dari para biksuni dan perumah tangga yang bekerja membuat lilin, bubuk makanan sehat dan honor penerbitan buku, tidak pernah menghabiskan satu sen pun dari dana sumbangan amal di dalam Yayasan Tzu Chi. Tahun 1966, Master Yin-shun menerima undangan untuk menjadi dosen di Chinese Culture University, Taipei, beliau harus meninggalkan Vihara Miao-yun di kota Jia-yi, Master Yin-shun berharap Master Cheng Yen dapat pindah bersama para muridnya ke Jia-yi dan memimpin Vihara Miao-yun. Akan tetapi, Master Cheng Yen sudah menetap di Hualien selama puluhan tahun, karena dua orang muridnya yang berusia lanjut dan 30 orang umat lain yang biasanya mengikuti Master tidak rela Master Cheng Yen meninggalkan mereka, semua membuat surat untuk Master Yin-shun meminta Master Cheng Yen tetap dibiarkan tinggal di Hualien. Master Cheng Yen terperangkap dalam kondisi serba sulit, tetapi karena telah ada jalinan jodoh, Master Cheng Yen akhirnya tetap tinggal di Hualien, serta memulai kegiatan Tzu Chi.

Asal Mula “Yayasan Buddha Tzu Chi”

Pada tahun 1966, disebabkan terjadinya peristiwa sebercak darah, Master Cheng Yen mulai berikrar untuk mendirikan organisasi amal demi melayani warga miskin. Kebetulan ada tiga orang biarawati Kristen dari Sekolah Menengah Hai-xing Hualien datang berkunjung kepada Master Cheng Yen, mereka membahas tentang guru manusia, tujuan dan makna agama. Sebelum meninggalkan Master Cheng Yen, biarawati berkata: “Hari ini akhirnya saya mengerti kalau kewelas asihan Sang Buddha melingkupi segala jenis kehidupan, benar-benar sangat agung. Namun, walau cinta kasih universal Tuhan dalam agama Kristen hanya demi umat manusia saja, tetapi kami mendirikan begitu banyak gereja, rumah sakit dan panti jompo di dalam masyarakat, lalu apa saja karya nyata dari agama Buddha bagi masyarakat?” Seketika hati Master Cheng Yen terasa terbenam, penganut agama Buddha sering berbuat amal tanpa mau diketahui orang, namun masing-masing berbuat sendiri tanpa mau bersatu. Sayang sekali semua hati cinta kasih melimpah ini tercerai berai tanpa terorganisir. Master Cheng Yen memutuskan untuk menyatukan semua kekuatan ini, dimulai dari upaya menolong orang miskin.

Tanggal 14 Mei 1966 (tanggal 24 bulan 3 penanggalan lunar), “Yayasan Amal Penanggulangan Kesusahan Tzu Chi” resmi didirikan.

Jarum dan benang membentuk miniatur Tzu Chi

Kegiatan amal Tzu Chi dimulai dengan enam orang murid Master Cheng Yen yang setiap orang setiap hari membuat sepasang sepatu bayi lebih banyak. Master juga membuatkan 30 buah celengan dari pohon bambu yang tumbuh di belakang rumah, celengan bambu diberikan kepada 30 orang muridnya yang berumah tangga, Master Cheng Yen meminta setiap orang menabungkan NT 50 sen setiap harinya ke dalam celengan bambu.

Para murid merasa heran, kenapa tidak setiap bulan menyumbangkan NT$ 15 sekaligus saja. Master mengatakan: “Saya berharap ketika kalian akan berbelanja ke pasar, terlebih dahulu memasukkan NT 50 sen ke dalam celengan bambu, sehingga sebelum keluar rumah, kalian telah memiliki niat kebajikan untuk menolong orang, dengan menghemat NT 50 sen, kalian dapat memelihara kebiasaan berhemat, juga hati cinta kasih untuk menolong orang.”

Sejak saat itu, setiap bertemu orang, ketiga puluh ibu rumah tangga ini menyebarkan kabar ini dengan suka cita, “Kami setiap hari menabungkan NT 50 sen untuk disumbangkan ke yayasan, agar kami bisa menolong orang lain.” Kabar “NT 50 sen bisa menolong orang” dengan sendirinya beredar luas, orang yang ikut berpartisipasi semakin lama semakin banyak, kemampuan untuk menolong orang susah juga berkembang dengan cepat. Pada bulan kedua berdirinya yayasan, Tzu Chi telah mampu membantu kehidupan seorang wanita lanjut usia sebatang kara asal Tiongkok, Tzu Chi mengupah orang untuk setiap hari mengantarkan makanan dan membersihkan rumah nenek tua ini, sampai saat nenek tua meninggal dunia, Tzu Chi membantu pemakamannya. Sebuah proyek maha agung namun penuh kesulitan telah dimulai sejak saat itu.

Pada saat ini, banyak umat datang ke hadapan Master Cheng Yen untuk minta menjadi muridnya, demi merekrut lebih banyak anggota yang memiliki kesungguhan hati, Master Cheng yen menetapkan dua kriteria pokok: pertama, orang yang ingin menjadi murid Master, mesti menjadi donatur tetap “Yayasan Amal Tzu Chi”, kedua, donatur yang telah menjadi murid Master, harus ikut dalam kegiatan menolong orang susah dari “Yayasan Amal Tzu Chi”. Pada masa awal berdirinya Yayasan Amal Tzu Chi, Master Cheng Yen dan para muridnya berdesakan dalam Vihara Pu-ming yang luasnya tidak sampai 67 meter persegi, satu sisi tetap bekerja untuk membuat barang-barang demi menutupi biaya hidup, di sisi lain juga harus mengurus kerja yayasan, lokasi yang ada sungguh tidak memadai. Belakangan pada tahun 1969, dengan bantuan ibu kandungnya, Master Cheng Yen pindah ke alamat dimana griya perenungan sekarang berada, Master Cheng Yen tetap berpegang pada prinsip kemandirian. “Griya perenungan” yang bersuasana hening, hikmat dan sederhana ini merupakan sandaran Tzu Chi selama-lamanya, juga merupakan kampung halaman batiniah bagi insan Tzu Chi seluruh dunia.

Ketika sepasang mata melihat, ribuan pasang mata ikut melihat.
Ketika sepasang tangan bergerak, ribuan pasang tangan ikut bergerak.

Cita-cita Tzu Chi adalah melakukan perbuatan menolong orang dalam derita dengan berlandaskan empat sifat luhur, memberi kebahagiaan dengan mencabut penderitaan orang. Semangat Tzu Chi adalah “ketulusan, kebenaran, keyakinan dan kejujuran”, berharap dengan kebijaksanaan dalam menangani masalah, dapat mengundang partisipasi dari semua orang budiman dari seluruh dunia untuk sama-sama menggarap lahan kebajikan, rajin menanam benih kebajikan, agar tercipta masyarakat penuh cinta kasih.

“Saya percaya pada sabda Sang Buddha bahwa sifat mendasar manusia adalah bajik. Semua makhluk setara adanya, seberapa besar hati cinta kasih dan hati welas asih Sang Buddha, sedemikian besar juga hati cinta kasih dan hati welas asih dari setiap makhluk. Seberapa besar kebijaksanaan Sang Buddha, sedemikian besar juga kebijaksanaan yang dapat dicapai setiap makhluk, asal dapat dibangkitkan, tentu kondisi batin akan mencapai taraf paling bijak dan kebahagiaan paling nyata. Pada umumnya, orang menganggap orang kaya tentu berbahagia, sebab orang miskin sulit terhindar dari sakit dan derita. Benar-benar tidak tahu bahwa orang kaya juga harus disadarkan kalau berdana akan lebih beruntung daripada menerima bantuan. Penyakit lahiriah tidak begitu menakutkan, lebih mengkhawatirkan lagi adalah penyakit batiniah, raga ini bagai sebatang pohon pisang, selapis demi selapis dikuliti, pada akhirnya akan hampa jadinya, hanya dengan memiliki empat sifat luhur yang langgeng dan sejati, barulah bisa mencapai taraf paling indah di dunia ini.” Master Cheng Yen menambahkan: “Ajaran Buddha adalah kebenaran, Tzu Chi adalah urusan duniawi, melalui penanganan urusan akan terungkap kebenaran, dengan urusan sebagai penggerak, kembali kepada kebenaran.”

Dari itu, misi-misi Tzu Chi bemula dari Misi Amal, Misi Pengobatan, Misi Pendidikan dan Misi Budaya Humanis, kemudian berkembang sampai Misi Bantuan Internasional, Misi Donor Sumsum Tulang, Misi Relawan Komunitas dan Misi Pelestarian Lingkungan, yang disebut “Delapan Jejak Dharma Master”. Insan Tzu Chi saling berpadu dengan kebijaksanaan, saling mendukung dengan hati cinta kasih, memberi bantuan dimana saja ada jeritan penderitaan, dengan segera menghilangkan penderitaan, dapat memainkan fungsi “Ketika sepasang mata melihat, ribuan pasang mata ikut melihat. Ketika sepasang tangan bergerak, ribuan pasang tangan ikut bergerak”, sehingga asal Tzu Chi bisa mencapai suatu tempat, setiap keluarga di sana akan hidup tenang dan sehat dan setiap pelosok penuh kehangatan.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Silahkan mampir di postingan menarik di bawah ini

Marusu Juga Punya Banyak Kelelawar

Makassar Guide

Total Pageviews

- Copyright © 2013 DafiDF -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -